Minggu, 23 September 2012

syukur

Aku bersyukur atas tiap kejadian per kejadian.
Aku bersyukur atas berkah yang telah tercurah sekarang.
Sungguh aku tak tahu ada apa di balik kata 'kemudian'.
Maka, aku titipkan hidupku, padaMu, Tuhan semesta alam.

Rabu, 12 September 2012

Adil

Tapi
Tidakkah hanya Tuhan yang mampu adil.
Coba pikir, setiap ada kelesuan, ketidak tertarikan, selalu ada semangat yang tersisip di saku lainnya.
Selalu ada yang datang membawa rencana untuk dibangun bersama.
Aku sambut mereka dengan penuh gembira.

Tuhan, aku selalu menanti semangat-semangat lainnya.
Jangan pernah lelah memacuku berkarya.
Engkau nyata, Engkau Ada, Tuhan pemilik Semesta :)

Minggu, 09 September 2012

pffft

Bagaimana caranya mempercayai manusia?

Ketika aku ditusuk lalu berlari terseok ke sosok manusia dengan jarak terdekat untuk memohon pertolongan, tapi urung karena melihat mereka juga memegang pisau.

Kalau aku harus berlari agak jauh untuk mencari yang dapat dipercaya, adakah yang mampu menjamin nyawaku tetap ada?


Tertawalah, selagi kau bisa.

Kamis, 06 September 2012

Medan Perang

saya punya TUHAN. Dia satu. Saya menyebutnya tuhan karena dia yang memegang kendali atas diri saya.
Ia ciptakan saya dari segumpal darah. Saya percaya? Tentu, karena dia Tuhan.
Tuhan bisa buat apa saja yang dia kehendaki.

Tuhan baik, saya percaya itu. Saya belum pernah melihatnya. Saya sangat ingin melihatnya tersenyum secepatnya. Karena saya tidak tahu bentuknya, saya gunakan otak pemberiaannya untuk membayangkan keindahannya. Menurut saya ia hangat, lembut, indah. Membayangkannya saja saya merinding, apalagi saya di beri kesempatan untuk melihatnya.

Ia baik, tak perduli apa golongan saya, ia melihat saya sama tinggi dengan manusia-manusia hebat lainnya. Ia tak perduli walau saya memiliki luka yang bernanah. Saya yakin dia mau membuka tangan besarnya apabila saya berjalan terseok kearahnya.

Manusia, mahluk yang satu ini sangat kompleks, banyak maunya, susah bersyukur dan sering mengeluh. Manusia sadar Tuhan yang ciptakan mereka, manusia pun sadar mereka miliknya dan berbondong-bondong menyembahnya.

Manusia sering ditempa hal-hal yang mereka sebut sebagai ujian. Ujian yang dapat dideskripsikan sebagai medan perang yang harus dilewati agar menuju garis kemenangan. Ada yang kuat berlari, ada pula yang berjalan tertatih karena tertembak timah panas yang kini bersarang di paha kanannya. Yang berjalan tertatih mengeluh, karena ia ditembak sehingga sulit lewati medan ini. Tapi sadarkah ia bahwa masih ada yang kedua kakinya tertembak sehingga ia harus merangkak dengan menyeret lutut dan siku hingga darah membasahi perjalanannya. Yang merangkak mengeluh karena ia harus terluka sekujur tubuhnya hanya untuk melewati ujian Tuhan. Tapi ternyata masih ada yang sebelum mencoba ia sudah menginjak ranjau dan tubuhnya terpencar berhamburan ke tanah? Kalau yang ini, mereka mati sebelum sempat mengeluh.

Kemarin? Hari ini? Mungkin esok hari ujian ini akan datang dan pergi. Tapi bagaimanakah saya bisa melewatinya hingga menuju garis keemasan yang tak henti-hentinya memanggil saya. Saya melihatnya ujian ini seperti perlombaan, di kanan kiri saya terdengar riuh karena banyak teriakan, ternyata banyak manusia lainnya. Saya liat wajah ibu saya yang tersenyum sambil teteskan air mata, saya lihat ayah saya yang seakan ingin melewati batas penonton dan menggendong saya agar saya bisa sampai dengan selamat di garis finish. ada kakak-kakak dengan muka cemas sambil berkomat-kamit. Mungkin ia berdoa. Teman-teman saya. Tetapi banyak juga yang tertawa, mengumpat dan bersorak.

Saya harus sampai ke garis akhir,
tak harus menang dan lewati lawan,
tapi suatu usaha mungkin cukup untuk buat Tuhan tersenyum.

Jumat, 24 Agustus 2012

Perkara semangat

Tiba-tiba ingin sekolah lagi.

Kalimat tadi, sama seperti yang aku ucapkan pada ibu setahun lalu. Lalu juga kuceritakan kepada teman-temanku. Padahal saat itu aku belum persiapkan apa-apa. Baru 'kepingin' yang digembar-gemborkan dan sedikit sekali persiapan.

Semangat mulai berdatangan, ada dalam bentuk restu (dari orang tua tentunya), merestui aku untuk pergi jauh menimba ilmu. Ada yang dalam bentuk doa, ada juga dalam bentuk kalimat semangat dengan efek 'getar-getar' hahaha.

Kurang beruntung apa aku? Tapi lucu, saat semangat berdatangan, TUJUAN-ku mengabur. Tujuan utamaku bukan lagi gelar master, tapi tujuanku itu semangat-semangat mereka. Aku mulai mengumpulkan sedikit-demi-sedikit, bukan, bukan persyaratan program master. Aku mulai mengumpulkan seruan-seruan semangat mereka, aku menanti dengan sabar, aku pun semakin haus disemangati.

Lucu ya?
Iya lucu, campur sedikit bodoh.
Tak sadar kalau semangat itu ternyata melenakan. Tujuanku berganti jadi kebutuhan akan perhatian. Akhirnya kesempatan lewat tanpa banyak bicara.



Tapi kini aku masih ingin sekolah lagi. Jangan beri aku semangat. Biarkan aku berjuang dalam hening, aku jago dalam urusan berjuang sendirian. Tapi lena dan buai yang akan mengaburkan pandangan.

Doakan saja, ya, dalam hening. Tuhan pasti dengar :)

Kamis, 23 Agustus 2012

Get a life!

Ada yang 'mengganggu' pikiran saya belakangan ini, perihal mengapa orang bisa terlalu memaksakan diri?
Mungkin di beberapa kasus, memaksakan diri itu bagus. Saya pun begitu, sering ngotot akan sesuatu, mengejar apa yang sudah saya tulis di papan tulis mimpi. ya, seperti yang sering saya bilang, saya gak percaya batas...

Memang bagus, kalau....

1. Hai itu tidak mengorbankan orang lain.
2. Tidak mengganggu orang lain.
3. Bermanfaat buat orang lain.

Tapi...
Kalau ujung-ujungnya gak menghormati keinginan dan hak orang lain, buat apa? Kamu ngejar apa?

Heran saya, kalau ada manusia yang begitu egoisnya, ingin selalu DIUTAMAKAN, tidak mau MENDENGAR, hanya pentingkan hati dan kebutuhan pribadi. Sampai-sampai ngorbanin keinginan, hak dan ketenangan orang lain?

C'mon!
You have to grow up, dude!

Berhenti egois, dengar baik-baik. Saya gak lagi becanda atau dalam fase ngambek-dan-butuh-dirayu, bukan! Emang saya dalam fase gak mau benci orang asal jangan nampakin muka depan saya.

Jangan samain hidup kayak film korea-lah! Tiba-tiba muncul depan rumah orang dan berharap bisa ngerubah semuanya. pffftttt!

Get a life! I just hope you get a better life out there. Out there!

Rabu, 15 Agustus 2012

Prioritas

Ingin sekali menulis panjang dan jernih. Tanpa rasa khawatir yang berlebihan, tanpa rasa takut diawasi atau sedang dinilai. Seperti menulis di word lalu disimpan di folder dengan label 'rahasia' hahaha. Terlalu anak kecil ya? Memang saya tak mau jadi dewasa, tapi nyatanya mau tak mau jadi dewasa. Dengan cara pikir serumit di kepala ini mana mungkin bisa disebut anak kecil lagi.

Ahhh.. saya rindu mengutarakan isi hati tanpa rasa takut dimarahi, tak disukai, tak disetujui. Saya bosan harus berpikir panjang jika ingin mengatakan kebenaran, bahkan terkadang harus mengkhianati kenyataan. Bosan jadi dewasa, orang dewasa penuh kekhawatiran.

Saya ingat betul ringannya langkah saat masih kecil, menggandeng teman mana saja tanpa perasaan takut salah kaprah. Otot wajah saya relax tanpa harus mengendur atau mengencang dipaksakan. 

Siapa yang saat kecil ingin cepat besar? Ah saya tidak.


Oh iya diluar bahasan di atas. Saya baru saja melewati satu kesempatan menonton konser The Cardigans gratis. THE CARDIGANS,  GRATIS DAN TERLEWATKAN.

sayang iya sayang, tapi gak kalau dibilang menyesal.

Jadi ceritanya kemarin lusa saya jadi #fakirkuis di twitter. Sebenarnya memang mau nonton konser band yang satu ini dari bulan lalu. Ngajakin temen-temen, mereka ternyata juga minat. Hore! Etapi kesini-sininya adem ayem aja. Saya juga mikir-mikir lagi sih soalnya kan deket lebaran, pasti banyak banget pengeluaran. Bukan cuma pengeluaran yang sifatnya memuaskan hasrat pribadi tapi yang ujung-ujungnya buat berbagi. Jadi saya urungin deh niat buat beli ticket konser cardigans.

Kemaren lusa ikutan kuis yang diselenggarain oleh @beritasatu di twitter, sebuah portal berita di twitter yang cukup sukses. Saya Menang! wiii seneng banget nget nget. Dan ternyata @annelisbrilian juga menang. (temen di mp dulu, sekarang mpnya udah mau ditutup :| ). Pengambilang hadiah dijadwalkan keesokan harinya di kantor @beritasatu. Duh kalo ngambil siang-siang tentu saja gak bisa karna kerja, mana kantornya di daerah gatot subroto. Jauh.

Akhirnya annel nawarin diri untuk dititipi ngambil tiket, dan ternyata boleh. Tapi sayang pas annel udah di sana, mereka bilang baru bisa diambil setelah jam 5. Karena tiketnya belum cair.  Nyebelin, jam 5 kan mepet banget. Belum lagi ticketnya belum jelas sudah cair atau belum jam 5. Tadinya saya memutuskan untuk ke kantor @beritasatu dulu baru ke senayan. Tapi tiba-tiba hp saya bunyi. Dari mama.

"De jadi nontonnya?"
"insya Allah ma."
"Oh, kita keranjang parcel sisa berapa ya? ada pesenan lagi 10 buat besok"
"besok?"
"Iya kata ka debby besok."
"Keranjang sisa 4 ma, isinya semuanya harus dibeli dulu"
"Ya udah kamu sms-in mama ya, yang harus dibeli apa aja."
"iya"


Duh campur aduk, saya gak kebayang udah sore terus mama harus bikin parcel itu sendiri. Akhirnya saya putusin buat sms mama.

"Ma bahan-bahannya biar oi aja nanti yang beli pulang kerja, oi gak jadi nonton konsernya."

Begitu ceritanya, mangkanya saya lepas kesempatan buat nonton the cardigans gratis di Senayan. Ga tega kalo mama harus bikin 10 parcel semalem sendiri, duduk lama-lama, belum lagi barang-barangnya udah pada abis, lalu yang bantuin udah pada mudik. Karena bikin parcel itu keliatannya aja yang mudah, tapi prakteknya. hmm cobain aja sendiri. hehe.

Oia parcel ini proyekan hari raya Saya, Kakak saya yang ke 3 dan Mama.
Mama sebagai pemilik modal, kakak lebih ke marketing dan distribusi kalo saya ke research, administrasi,  dan operasional. Ternyata seru juga bikin proyekan bareng keluarga, walaupun adu argumennya lebih sering. hehe.

Dan kedepannya akan ada proyek keluarga lagi, doain lancar ya. Curi-curi waktu sepulang kerja untuk rampungin konsep, buat formula dan eksperimen kecil-kecil. Kali ini bidangnya pangan, kata kakak "sayang kalo ilmu lo gak dipake buat majuin keluarga sendiri." hmmmm ya doakan saja semoga saya pintar bagi waktu dan jaga kesehatan.

melantur, haha. Iya masih sulit untuk mensistematiskan tulisan. Biarlah namanya juga belajar. Semoga semakin lama tulisan saya semakin jernih dan mengalir. Tapi memang ada kalanya saya buat tulisan keruh yang penuh riak.

Senin, 13 Agustus 2012

Perang Dingin

Sekelompok stimulan mulai berdatangan membangunkan neuron-neuron yang sedang mengigau. Mereka tidak pernah bertambah lagi, jumlah mereka tetap tetapi masih kosong jadi sepertinya saya tidak butuh yang baru, yang ini saja biar saya bangunkan dia sekarang. Sekarang mereka bergetar meneruskan rangsang kepada bulu halus di tengkuk agar merespon untuk berdiri. saya terpengkur, melarang hati saya untuk menstimulasi saya untuk bertindak.

"tidak, kali ini kamu diam saja, saya ingin kamu istirahat"
saya pikir hati terlalu banyak bekerja belakangan ini. Menganalisis keadaan, mengerjakan yang seharusnya tidak ia kerjakan"
"tak apa nona saya sudah mulai terbiasa, saya pun menikmatinya"
"tidak perlu, kamu istirahat saja"
saya tidak tahu mengapa ia bersikeras.

"hey bangun"
saya guncang puluhan ribu gulungan kusut yang masih pulas. Otak sudah lama makan gaji buta.
"bangun, tolong kamu cerna ini dan segera laporkan pada saya apa yang harus saya lakukan!"
mereka mengejang sambil mengeluarkan erangan, sepertinya sakit. Ah, saya tidak perduli saya tahu mereka pintar.
"cepat kerja, kalian mau semakin memendek kalau terus seperti ini?"
mereka tak menjawab lalu bersusah payah melaksanakan perintah. mereka kusut, semerawut memanjang lalu memendek begitu seterusnya.

erangan demi erangan tidak saya dengarkan.

stimulan terus saja datang, memaksa mereka memperkuat dan merapihkan barisan. mereka akan satu persatu mati kalau terus saja seperti tadi.

selesai.
mereka kirimkan laporan yang saya inginkan.
saya buka.

Isinya saya harus bunuh si hati kalau saya ingin menang.
Hati terlalu banyak ikut campur dan sering buat saya tersungkur.



apakah saya ikutin kata otak?



saya lebih percaya hati walau ia bodoh dan sering tak bisa selesaikan masalah.
Tapi saya tak mau buang si otak yang tamak, karena terkadang saya butuh dia untuk memilah mana yang hak.


Saya putuskan mereka tetap bersama saya walau saya tau ada PERANG DINGIN diantara mereka.

Kamis, 09 Agustus 2012

Basmallah

Ucap basmallah, jangan sampe putus!

Rabu, 08 Agustus 2012

Peace

I feel my own peace again :)

Kemarin, saya membuat janji kepada sang Maha Baik. Janji akan berusaha belajar mencintai dan menghargai berkah yang Ia titipkan. Kalau diingat-ingat berapa banyak berkah baik yang saya acuhkan karena nampak membosankan. Jelas-jelas saya kebelinger. Benar-benar kebelinger.

Menyesal, gak sih. Cuma kecewa sama diri sendiri. Tapi kalau mau berubah jadi baik ya harus dimulai dengan memaafkan diri sendiri. Semua ini seperti rangkaian kebodohan yang menular dari satu momentum ke momentum lainnya. Busuk satu, lalu busuk seterusnya. Tapi percaya kalau Allah memang gak pernah berhenti memaafkan umat yang benar-benar memohon ampunan. Entah permohonan saya layak diterima atau tidak, tapi telah memberikan space lebih lega di hati saya. I feel zen.

Semua terasa ringan, tidak ada perasaan takut kehilangan.Tidak ada perasaan takut tersaingi. Marah atau apapun sama sekali tidak. Yang sudah memang seharusnya disudahi. Jangan dikorek-korek lagi :)


Senin, 06 Agustus 2012

Peta

Saya teringat ucapan dosen pembimbing untuk saya :

"Kamu tidak boleh pergi ke suatu pulau asing begitu saja, kamu harus punya peta, setidaknya tanya pada mereka yang pernah mencoba kesana. Karena bisa saja sebenarnya pulau itu tak punya ada!"

Saya menjawab.
"Kalau semua orang ragu ambil resiko menuju ke sana, siapa yang akan buat petanya?"

Dan ternyata akhirnya saya yang buat petanya, terjajar rapih di perpustakaan jurusan.
Semoga berguna bagi mereka-mereka si pembenci resiko :)

Terjun bebas

Aku terjun bebas, tanpa matras, bukan pula untuk sebuah film laga.

Tak perlu khawatir, ibuku selalu menadah, di bawah.

Minggu, 05 Agustus 2012

Pengembara

Senang mengetahui akhirnya cerita ini berakhir bahagia. Dalam cerita, tokoh utamanya tahu harus menjatuhkan pilihan terhadap 'apa'. Matahari, lembah atau padang rumput? Kali ini padang rumput yang berhasil menyejukan hati si tokoh utama. Lembah bilang padaku kalau ia sudah ikhlas. Matahari? Aku tak tahu, aku tak kenal dia. Tebakku ia sedang bersedih dan meredup sekarang. Mungkin itu sebabnya beberapa hari ini turun hujan. Sebenarnya di antara matahari, lembah dan rumput masih banyak lagi alam rela tawarkan sejuta pesona pada si tokoh utama, Sang Pengembara...


Itulah hebatnya pengembara, ia rela habiskan waktunya hanya untuk menikmati suguhan alam secara detail. Tiupan anginnya, kelembabannya, jatuhnya cahaya, kesuburan tanah dan keseimbangan satwa yang hidup di dalamnya. Terkadang detail yang tak kasat mata seperti tarikan-tarikan nafas akar gantung pohon-pohon beringin, ia amati lekat-lekat dengan hatinya.

Seperti musim yang rutin singgah hanya untuk beberapa saat, begitupula dengan pengembara. Alam tak bisa memilikinya selamanya. Karna ada saatnya pengembara mulai lebih berwawasan, cangkirnya hampir penuh. Dan terkadang mulai bosan dan memutuskan untuk meneruskan perjalan.

Selalu begitu, tiba, terkagum-kagum, mengamati, mencatat, menguaknya yang masih tersimpan rapih, berlama-lama, lalu mulai bosan dan sadar di luar sana ada jutaan hamparan alam yang sama menariknya untuk dijelajah atau jika beruntung jauh lebih indah dari tempatnya berdiri saat itu.

Ah.. Pengembara.

Alam tak marah, justru mereka senang selama pengembara tahu tata cara bertamu dan tidak 'merusak'. Mereka dengan suka cita menyediakan hasil bumi, buah-buahan manis, air kaya mineral yang  jernih, udara yang bersih terkadang tetap tersenyum walau pengembara membawa beberapa bor dan pipa-pipa yang menghujam perut mereka dan mengeluarkan isinya.

Pengembara, angin mengabarkan bahwa kamu sedang bermanja-manja di padang rumput yang subur. Kami senang karna angin seakan menggeser awan menjadi bentuk wajahmu tersenyum.

Mereka senang kau akhirnya tersenyum. Karena kata lembah, hari terakhir kau disana, wajahmu murung.



Aku hanya menulis, tapi tidak menentukan. Akan kukabarkan apa yang terjadi kemudian.

Rabu, 25 Juli 2012

Kata mama 1

Undur masa senang-senang. Undur rencana buang-buang.

"Sekarang waktunya cari uang" kata mama.

Kamis, 19 Juli 2012

Haru. Biru.

Pernahkah merasa biru dalam pelukan seorang ibu.


Tadi malam, tetiba saya ingin menangis lalu terpergok Ibu. 
Ibu saya tak pernah bertanya kenapa. Sepertinya dia itu memang bisa membaca air mata anak-anaknya. Dia itu tipe yang jarang sekali bertanya, cenderung cuek tapi nyatanya dia tahu keadaannya. 

Dia hanya bilang, "jangan nangis, mama gak mau jadi ikut nangis".

Saya diam. 

"Nangis hanya membuat hati orang semakin kecil" sambil mengusap matanya yang mulai ikut basah.

"Sini" dia menarik saya ke dalam pelukan.

Saya masih tak bicara dan saya rasa saya memang tak perlu bicara. Ibu saya sudah tau segalanya.
Memang saya hanya perlu dipeluk dan diingatkan untuk tidak menggaruk luka. 


Dia terus memeluk saya dengan sampaikan sabda-sabda yang dapat jadi petunjuk untuk kehidupan saya selanjutnya.

Saya menangis bukan karena sedih atau merasa hidup ini berat. 
Entah, banyak hal yang bikin gundah belakangan ini. 


Tapi kini biru telah berganti jadi haru.



Lingkaran

Teman.
Lebih pilih mana punya banyak teman atau hanya punya beberapa tapi intim?

Saya pilih pilihan yang kedua. Tapi punya teman banyak enak juga. hehehe.

Sebelumnya saya pernah menulis tentang hubungan pertemanan versi saya di Facebook yang saya beri judul lingkaran dan sekarang HILANG. haahhh. 

Terlepas dari Facebook yang ga bisa jaga note saya, kenapa judulnya harus lingkaran? karena lingkaran adalah gabungan titik yang saling berjejer membentuk garis yang TIDAK TERPUTUS. Keren gak sih? titik, berdampingan, solid dan tak terputus. Mungkin lingkaran dapat merefleksikan pertemanan versi saya. Idealnya agar bentuknya tetap lingkaran, tiap titik penyusun garis punya gaya tarik (gravitasi) yang pas dan sama besar! Karena kalau satu saja yang gaya tariknya terlampau besar (terlalu memiliki) maka bentuknya akan jadi elips dan gak lagi bulat. Begitu juga kalau ada titik yang gravitasinya terlampau lemah (tak lagi menarik titik lainnya) maka bentuk 'lingkaran' akan berubah menjadi 'tak karuan' bahkan terkadang terpaksa terputus.

Gravitasi tiap titik tersebut menggambarkan keintiman tiap anggotanya. Dan kadar keintiman di hati tiap orang pun berbeda-beda. Kadang kita merasa dekat dengan seseorang, belum tentu orang tersebut merasakan hal yang sama. walaupun kadang terlihat memiliki kadar yang sama. Tapi apa yang kita lihat kan belum tentu sama seperti kenyataannya. Ingat! Bias itu menjelma di mana-mana. 

Ibaratnya bagaimana caranya merasakan manis atau asamnya strawberry kalau hanya dengan melihatnya?

Yang penting buat LINGKARAN yang kita punya tetap permeable. Tiap titik bebas masuk keluar asal gak merusak sistem. Kehilangan dan kehadiran itu siklus alami. Dan yang perlu saya wanti-wanti juga ke diri sendiri, jangan buat gravitasi yang terlampau besar dan akhirnya merusak bentuk lingkaran. 

Boleh pupuk keintiman dalam hati, tapi tetap jangan terlalu terlampau memiliki. Karena setiap titik juga bebas punya lingkaran-lingkaran lain di semesta. Lingkaran keluarga, lingkaran teman kuliah, lingkaran teman rumah dan lingkaran-lingkaran lainnya.


seperti gambar ini :)





Senin, 16 Juli 2012

Dua Puluh Empat

Waktu, berlalulah secara baik-baik saja.

Dua puluh empat jam harusnya cukup, begitu kata motivator-motivator di luar sana tentang hubungan gelap waktu dan kewajiban. Belum lagi hak yang kadang ingin lebih dulu di dahulukan. Ya, hanya untuk orang-orang belum cukup rajin seperti aku yang kadang menuntut waktu untuk lebih dulu menjamuku dengan hal-hal yang dapat memanjakan otak untuk tidak berpikir keras. 

Lalu kadang aku memaksa bangun neuron di serabut syaraf dalam tempurung kepala. Memaksanya bekerja lebih keras agar dua puluh empat jam ini berjalan tanpa sia-sia. Benar saja, dua puluh empat jam memang masih belum cukup. Tapi setidaknya banyak persentase kewajiban yang terlaksanakan lebih duru dari hak. 

Banyak sekali yang harus di urus, sampai aku melupakan ini-itu. Aku lupa rasanya harap-harap cemas tentang kamu, kini aku lebih akrab dengan harap-harap cemas tentang deadline, tentang harga barang, tentang customer, tentang datangnya malam.

Kamu tetap bulan yang aku tunggu datangnya, tapi kini tibanya malam lebih mencemaskan walaupun aku tahu ada kamu di dalamnya. Aku tak lagi mampu menunggumu di balik jendela sampai akhirnya tertidur tanpa selimut.

Aku tak lagi mampu mengagumimu sambil menyilangkan jari atas tergantinya hari. Ahhh kamu pasti bilang 'YES!' :p


 Tapi ngomong-ngomong dua puluh empat jam memang harusnya cukup.

Pelajaran Hari Kemarin

Benar ternyata, perihal janji tak ayal seperti sesuatu yang tak bisa ditawar-tawar.

Saat waktu terasa berlari lebih dulu dari kemampuanku bersiap diri. Lalu datang sekawanan penagih janji yang seakan tak tahu diri, tak peduli si penghutang ini punya sesuatu yang lebih penting dari urusan yang tak bisa kalian kerjakan sendiri. Lalu aku ling-lung, mana yang lebih penting? Masa depanku atau hal remeh temeh semacam 'tolong bantu ajariku mengikat sepatu, dulu kau berjanji mau membantuku' ? Lalu kalian terus berteriak. 'Janji ya tetap janji, memang masa depanmu penting. Tapi tolong bantu ikat tali sepatuku!'. Kalian yang memaksaku berteriak, 'pahamilah aku sibuk mempersiapkan masa depanku, Ikatlah sendiri, cari orang lain, belajarlah tanpa aku'. 

Aku diam sehabis meneriakkan itu. Rasa tak tega melahapku yang tetap berusaha terlihat tak peduli. Aku kembali mempersiapkan masa depanku. Masa depan kalian.

Nafasku menderu, kata 'deal' atas pintu masa depan yang mitosnya lebih baik ada di orang yang sedang bicara denganku. Menanyakan ini-itu dengan bahasa luar angkasa. Aku mengerti ucapannya, tapi lidahku menolak berkata sebenarnya tentang ambisiku berada di sana bersama orang ini dan yang lainnya.

Dia seringkali menyarankanku untuk minum di sela-sela penjelasanku yang berputar-putar tak berdasar. Kadang tersenyum tetapi seringkali mengernyitkan dahi. Dia terlalu muda untuk memegang nasibku. Mungkin tanpa bibir ini berkata mataku sudah bilang lebih dulu 'aku yang memegang takdirku, kau hanya beruntung sehingga aku harus mempertebal keyakinanmu bahwa aku memang pantas'. 

*dialog di sini dihapus saja*

Dia bertanya, pertanyaan basa-basi. Bahwa, apakah aku senang? Tentu saja tidak, bagaimana aku bisa senang kalau kau terus berbicara bahasa luar angkasa yang tak kusuka. Belum sempat aku tunjukkan semuanya. Sama sekali belum 5%nya.

Kami bersalaman lalu aku berpamit pulang. Ibuku menunggu di luar. Ingin menangis. Sungguh diluar biasanya. Bagaimana bisa semua tak selancar harapan. Bagaimana  siap-siap ku selama ini tak ada gunanya. Berapa janji yang kuingkari demi sebuah pertemuan berlabelkan 'deal-masa-depan'?


Lalu aku teringat para penagih janji. Mungkin nasib baikku masih terjebak di janji-janjiku. Aku panggil mereka satu-persatu.

Kamu ingat yang memintaku hal remeh semacam 'bantu mengikat tali sepatu?'. Ternyata ia terlahir dengan jari yang tak lengkap. Begitu juga yang lainnya. Mereka bergantung karena mereka memang merasa aku dapat diandalkan. Lalu pikiran negatifku merubah 'dapat diandalkan' menjadi 'apa-apa saya?!'

Bagaimanapun Manusia itu sejatinya seperti sebatang pensil. Bebas menulis diibaratkan sebagai tindakan yang jika salah kita boleh menghapusnya, tapi dihapus sebersih apapun pasti ada bekasnya.

Sampai kini aku masih harus menebus, semaian janji yang dulu aku tebar.

Lalu aku tak akan pernah lupa. Janji itu bukan barang mahal, tapi tidak murah untuk menebusnya.

Dan semoga segala urusan ringan setelahnya :)