Senin, 13 Agustus 2012

Perang Dingin

Sekelompok stimulan mulai berdatangan membangunkan neuron-neuron yang sedang mengigau. Mereka tidak pernah bertambah lagi, jumlah mereka tetap tetapi masih kosong jadi sepertinya saya tidak butuh yang baru, yang ini saja biar saya bangunkan dia sekarang. Sekarang mereka bergetar meneruskan rangsang kepada bulu halus di tengkuk agar merespon untuk berdiri. saya terpengkur, melarang hati saya untuk menstimulasi saya untuk bertindak.

"tidak, kali ini kamu diam saja, saya ingin kamu istirahat"
saya pikir hati terlalu banyak bekerja belakangan ini. Menganalisis keadaan, mengerjakan yang seharusnya tidak ia kerjakan"
"tak apa nona saya sudah mulai terbiasa, saya pun menikmatinya"
"tidak perlu, kamu istirahat saja"
saya tidak tahu mengapa ia bersikeras.

"hey bangun"
saya guncang puluhan ribu gulungan kusut yang masih pulas. Otak sudah lama makan gaji buta.
"bangun, tolong kamu cerna ini dan segera laporkan pada saya apa yang harus saya lakukan!"
mereka mengejang sambil mengeluarkan erangan, sepertinya sakit. Ah, saya tidak perduli saya tahu mereka pintar.
"cepat kerja, kalian mau semakin memendek kalau terus seperti ini?"
mereka tak menjawab lalu bersusah payah melaksanakan perintah. mereka kusut, semerawut memanjang lalu memendek begitu seterusnya.

erangan demi erangan tidak saya dengarkan.

stimulan terus saja datang, memaksa mereka memperkuat dan merapihkan barisan. mereka akan satu persatu mati kalau terus saja seperti tadi.

selesai.
mereka kirimkan laporan yang saya inginkan.
saya buka.

Isinya saya harus bunuh si hati kalau saya ingin menang.
Hati terlalu banyak ikut campur dan sering buat saya tersungkur.



apakah saya ikutin kata otak?



saya lebih percaya hati walau ia bodoh dan sering tak bisa selesaikan masalah.
Tapi saya tak mau buang si otak yang tamak, karena terkadang saya butuh dia untuk memilah mana yang hak.


Saya putuskan mereka tetap bersama saya walau saya tau ada PERANG DINGIN diantara mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar