Senin, 16 Juli 2012

Dua Puluh Empat

Waktu, berlalulah secara baik-baik saja.

Dua puluh empat jam harusnya cukup, begitu kata motivator-motivator di luar sana tentang hubungan gelap waktu dan kewajiban. Belum lagi hak yang kadang ingin lebih dulu di dahulukan. Ya, hanya untuk orang-orang belum cukup rajin seperti aku yang kadang menuntut waktu untuk lebih dulu menjamuku dengan hal-hal yang dapat memanjakan otak untuk tidak berpikir keras. 

Lalu kadang aku memaksa bangun neuron di serabut syaraf dalam tempurung kepala. Memaksanya bekerja lebih keras agar dua puluh empat jam ini berjalan tanpa sia-sia. Benar saja, dua puluh empat jam memang masih belum cukup. Tapi setidaknya banyak persentase kewajiban yang terlaksanakan lebih duru dari hak. 

Banyak sekali yang harus di urus, sampai aku melupakan ini-itu. Aku lupa rasanya harap-harap cemas tentang kamu, kini aku lebih akrab dengan harap-harap cemas tentang deadline, tentang harga barang, tentang customer, tentang datangnya malam.

Kamu tetap bulan yang aku tunggu datangnya, tapi kini tibanya malam lebih mencemaskan walaupun aku tahu ada kamu di dalamnya. Aku tak lagi mampu menunggumu di balik jendela sampai akhirnya tertidur tanpa selimut.

Aku tak lagi mampu mengagumimu sambil menyilangkan jari atas tergantinya hari. Ahhh kamu pasti bilang 'YES!' :p


 Tapi ngomong-ngomong dua puluh empat jam memang harusnya cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar