Senin, 16 Juli 2012

Pelajaran Hari Kemarin

Benar ternyata, perihal janji tak ayal seperti sesuatu yang tak bisa ditawar-tawar.

Saat waktu terasa berlari lebih dulu dari kemampuanku bersiap diri. Lalu datang sekawanan penagih janji yang seakan tak tahu diri, tak peduli si penghutang ini punya sesuatu yang lebih penting dari urusan yang tak bisa kalian kerjakan sendiri. Lalu aku ling-lung, mana yang lebih penting? Masa depanku atau hal remeh temeh semacam 'tolong bantu ajariku mengikat sepatu, dulu kau berjanji mau membantuku' ? Lalu kalian terus berteriak. 'Janji ya tetap janji, memang masa depanmu penting. Tapi tolong bantu ikat tali sepatuku!'. Kalian yang memaksaku berteriak, 'pahamilah aku sibuk mempersiapkan masa depanku, Ikatlah sendiri, cari orang lain, belajarlah tanpa aku'. 

Aku diam sehabis meneriakkan itu. Rasa tak tega melahapku yang tetap berusaha terlihat tak peduli. Aku kembali mempersiapkan masa depanku. Masa depan kalian.

Nafasku menderu, kata 'deal' atas pintu masa depan yang mitosnya lebih baik ada di orang yang sedang bicara denganku. Menanyakan ini-itu dengan bahasa luar angkasa. Aku mengerti ucapannya, tapi lidahku menolak berkata sebenarnya tentang ambisiku berada di sana bersama orang ini dan yang lainnya.

Dia seringkali menyarankanku untuk minum di sela-sela penjelasanku yang berputar-putar tak berdasar. Kadang tersenyum tetapi seringkali mengernyitkan dahi. Dia terlalu muda untuk memegang nasibku. Mungkin tanpa bibir ini berkata mataku sudah bilang lebih dulu 'aku yang memegang takdirku, kau hanya beruntung sehingga aku harus mempertebal keyakinanmu bahwa aku memang pantas'. 

*dialog di sini dihapus saja*

Dia bertanya, pertanyaan basa-basi. Bahwa, apakah aku senang? Tentu saja tidak, bagaimana aku bisa senang kalau kau terus berbicara bahasa luar angkasa yang tak kusuka. Belum sempat aku tunjukkan semuanya. Sama sekali belum 5%nya.

Kami bersalaman lalu aku berpamit pulang. Ibuku menunggu di luar. Ingin menangis. Sungguh diluar biasanya. Bagaimana bisa semua tak selancar harapan. Bagaimana  siap-siap ku selama ini tak ada gunanya. Berapa janji yang kuingkari demi sebuah pertemuan berlabelkan 'deal-masa-depan'?


Lalu aku teringat para penagih janji. Mungkin nasib baikku masih terjebak di janji-janjiku. Aku panggil mereka satu-persatu.

Kamu ingat yang memintaku hal remeh semacam 'bantu mengikat tali sepatu?'. Ternyata ia terlahir dengan jari yang tak lengkap. Begitu juga yang lainnya. Mereka bergantung karena mereka memang merasa aku dapat diandalkan. Lalu pikiran negatifku merubah 'dapat diandalkan' menjadi 'apa-apa saya?!'

Bagaimanapun Manusia itu sejatinya seperti sebatang pensil. Bebas menulis diibaratkan sebagai tindakan yang jika salah kita boleh menghapusnya, tapi dihapus sebersih apapun pasti ada bekasnya.

Sampai kini aku masih harus menebus, semaian janji yang dulu aku tebar.

Lalu aku tak akan pernah lupa. Janji itu bukan barang mahal, tapi tidak murah untuk menebusnya.

Dan semoga segala urusan ringan setelahnya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar