Itulah hebatnya pengembara, ia rela habiskan waktunya hanya untuk menikmati suguhan alam secara detail. Tiupan anginnya, kelembabannya, jatuhnya cahaya, kesuburan tanah dan keseimbangan satwa yang hidup di dalamnya. Terkadang detail yang tak kasat mata seperti tarikan-tarikan nafas akar gantung pohon-pohon beringin, ia amati lekat-lekat dengan hatinya.
Seperti musim yang rutin singgah hanya untuk beberapa saat, begitupula dengan pengembara. Alam tak bisa memilikinya selamanya. Karna ada saatnya pengembara mulai lebih berwawasan, cangkirnya hampir penuh. Dan terkadang mulai bosan dan memutuskan untuk meneruskan perjalan.
Selalu begitu, tiba, terkagum-kagum, mengamati, mencatat, menguaknya yang masih tersimpan rapih, berlama-lama, lalu mulai bosan dan sadar di luar sana ada jutaan hamparan alam yang sama menariknya untuk dijelajah atau jika beruntung jauh lebih indah dari tempatnya berdiri saat itu.
Ah.. Pengembara.
Alam tak marah, justru mereka senang selama pengembara tahu tata cara bertamu dan tidak 'merusak'. Mereka dengan suka cita menyediakan hasil bumi, buah-buahan manis, air kaya mineral yang jernih, udara yang bersih terkadang tetap tersenyum walau pengembara membawa beberapa bor dan pipa-pipa yang menghujam perut mereka dan mengeluarkan isinya.
Pengembara, angin mengabarkan bahwa kamu sedang bermanja-manja di padang rumput yang subur. Kami senang karna angin seakan menggeser awan menjadi bentuk wajahmu tersenyum.
Mereka senang kau akhirnya tersenyum. Karena kata lembah, hari terakhir kau disana, wajahmu murung.
Aku hanya menulis, tapi tidak menentukan. Akan kukabarkan apa yang terjadi kemudian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar