saya punya TUHAN. Dia satu. Saya menyebutnya tuhan karena dia yang memegang kendali atas diri saya.
Ia ciptakan saya dari segumpal darah. Saya percaya? Tentu, karena dia Tuhan.
Tuhan bisa buat apa saja yang dia kehendaki.
Tuhan baik, saya percaya itu. Saya belum pernah melihatnya. Saya sangat ingin melihatnya tersenyum secepatnya. Karena saya tidak tahu bentuknya, saya gunakan otak pemberiaannya untuk membayangkan keindahannya. Menurut saya ia hangat, lembut, indah. Membayangkannya saja saya merinding, apalagi saya di beri kesempatan untuk melihatnya.
Ia baik, tak perduli apa golongan saya, ia melihat saya sama tinggi dengan manusia-manusia hebat lainnya. Ia tak perduli walau saya memiliki luka yang bernanah. Saya yakin dia mau membuka tangan besarnya apabila saya berjalan terseok kearahnya.
Manusia, mahluk yang satu ini sangat kompleks, banyak maunya, susah bersyukur dan sering mengeluh. Manusia sadar Tuhan yang ciptakan mereka, manusia pun sadar mereka miliknya dan berbondong-bondong menyembahnya.
Manusia sering ditempa hal-hal yang mereka sebut sebagai ujian. Ujian yang dapat dideskripsikan sebagai medan perang yang harus dilewati agar menuju garis kemenangan. Ada yang kuat berlari, ada pula yang berjalan tertatih karena tertembak timah panas yang kini bersarang di paha kanannya. Yang berjalan tertatih mengeluh, karena ia ditembak sehingga sulit lewati medan ini. Tapi sadarkah ia bahwa masih ada yang kedua kakinya tertembak sehingga ia harus merangkak dengan menyeret lutut dan siku hingga darah membasahi perjalanannya. Yang merangkak mengeluh karena ia harus terluka sekujur tubuhnya hanya untuk melewati ujian Tuhan. Tapi ternyata masih ada yang sebelum mencoba ia sudah menginjak ranjau dan tubuhnya terpencar berhamburan ke tanah? Kalau yang ini, mereka mati sebelum sempat mengeluh.
Kemarin? Hari ini? Mungkin esok hari ujian ini akan datang dan pergi. Tapi bagaimanakah saya bisa melewatinya hingga menuju garis keemasan yang tak henti-hentinya memanggil saya. Saya melihatnya ujian ini seperti perlombaan, di kanan kiri saya terdengar riuh karena banyak teriakan, ternyata banyak manusia lainnya. Saya liat wajah ibu saya yang tersenyum sambil teteskan air mata, saya lihat ayah saya yang seakan ingin melewati batas penonton dan menggendong saya agar saya bisa sampai dengan selamat di garis finish. ada kakak-kakak dengan muka cemas sambil berkomat-kamit. Mungkin ia berdoa. Teman-teman saya. Tetapi banyak juga yang tertawa, mengumpat dan bersorak.
Saya harus sampai ke garis akhir,
tak harus menang dan lewati lawan,
tapi suatu usaha mungkin cukup untuk buat Tuhan tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar