Rabu, 06 Agustus 2014

Operasi Koreksi Skoliosis

Saat saya sudah ikhlaskan sesuatu yang sangat diinginkan, ketika itu pula Allah membuka jalan lebar menuju kesana.

Sekitar umur 14 tahun, saya mulai menyadari bahwa saya ditemani skoliosis. Saya pandangi punggung-punggung orang lain, tak ada yang seperti milik saya. Saat itu akses internet masih sulit, orang-orang sekitarku pun tak tahu pasti apa itu skoliosis.Yang kami tahu, dr SD, SMP sampai SMA skoliosis selalu dibahas sekilas di buku pelajaran biologi bersama temannya kifosis dan lordosis. Buku-buku itu bilang skoliosis adalah penyakit kelainan struktur tulang akibat dari kebiasaan postur duduk yang kurang baik. Maka yang orang-orang- termasuk saya pahami saat itu skoliosis adalah hal yang harus penderitanya terima, karena kesalahannya selama ini.

Kehidupan saya mulai berubah. Sebelum menderita skoliosis, saya adalah anak riang dengan sejuta imajinasi di kepala. Tak kenal takut dan malu. Selalu ingin tampil. Hampir semua kesenian menari, menyanyi, modeling, teater saya ikuti entah bisa atau tidak. Setelah skoliosis datang saya menarik diri perlahan dalam cangkang. Menahan diri dari hal-hal yang ingin sekali dilakukan.

Sempat ada masanya saya menangis setiap malam. 
Mengecek punggungku saat bangun pagi, berharap mimpi.
Menulis prosa yang mereka sebut galau. 

Cukup lama, sangat lama untuk bisa berdamai dengan skoliosis.
Sampai tiba saatnya saya bilang pada Mama.

"Saya sudah benar-benar  ikhlas dengan apa yang ada."

Walaupun masih banyak yang merasa saya cukup tegar. Beberapa teman membahas yang terjadi pada saya tanpa melibatkan saya dalam pembicaraannya. Ada yang bilang saya hebat karena tetap seperti tak ada apa-apa.

Dimasa-masa kegamangan, saya diam-diam mengintip sebuah komunitas Skoliosis, namanya Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI). Tidak terpikir untuk bergabung, karena saat itu saya tak mau mendeklarasikan diri sebagai skolioser. Muncul kabar baik dan buruk dari komunitas itu. Yang baik adalah mereka yang operasinya atau terapinya berhasil membawa mereka ke keadaan lebih baik, yang buruk adalah skolioser yang sudah sampai pada tahap sulit bernafas karena kurvanya sudah terlampau besar dan menekan paru paru. Saya takut tapi tak disampaikan pada siapapun.

Dulu berkali-kali terucap minta dioperasi, tapi mama saya selalu bilang tidak dan meminta saya bersabar. Karena yang beliau tahu hanya resiko operasi, tidak tahu kalau skoliosis bisa bertambah buruk dan mengganggu kerja organ lain. Saya tak pernah menjelaskan ketakutan saya karena tak tahu caranya.


Sampai suatu waktu saya benar-benar mengikhlaskan diri. Tapi kemudian Allah berkehendak lain. Skoliosis saya bertambah buruk, kurvanya mencapai 107 derajat. Akhirnya saya mampu menjelaskan ketakutan saya pada keluarga. Dan akhirnya mereka mengikhlaskan diri dan menyadari operasi adalah satu-satunya jalan saat itu. Allah maha baik, saya dipertemukan dengan dokter Rahyussalim. Operasi saya dijalankan di RSCM seharga 0 rupiah. Dengan hasil yang diluar ekspektasi saya.

Disaat saya mengikhlaskan, disaat itulah Allah berikan.



Kamis, 10 April 2014

don't push yourself too hard

Ternyata butuh umur setua ini untuk berdamai dengan skoliosis dan terbuka tentangnya :D

10 tahun lalu kurva saya sekitar 50 derajat, sekarang melambung ke 115 derajat. Ya, sangat progresif.
Kenapa bisa? Mungkin saya yang terlalu mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Gak ingin terlihat berkebutuhan khusus. 

Contohnya. Saat ospek masuk kuliah, senior bagian kesehatan mewawancara tentang kondisi kesehatan mahasiswa baru. Saya cepat saja menjawab tidak punya masalah dengan kesehatan. Tak pernah sedikit pun ingin memakai pita medic. Walaupun saya tahu, orang mampu melihatnya tapi saya tak ingin mengakuinya.

Kebetulan Unpad mempunyai kontur tanah yang berbukit-bukit. Untuk mencapai gedung fakultas, harus jalan menanjak cukup jauh dengan membawa banyak barang bawaan. Ditengah jalan, senior yang bertugas sebagai medic bertanya apa saya sakit. Mungkin saat itu muka saya pucat karena sesak napas. Saya bilang tidak, saya baik-baik saja. Dia bilang apa saya yakin, saya boleh beristirahat tidak perlu takut. Saya meyakinkannya kalau saya baik-baik saja dan terus berjalan.

Ini hanya salah satu contoh, betapa saya mengabaikan tubuh ini. Dan sekarang dia protes :p

Saya bisa sangat terbuka tentang apapun tapi sangat tertutup tentang skoliosis.
Seringkali teman yang ingin tahu memancing untuk membahas, tapi sayangnya selalu saya alihkan. 
Malas sekali rasanya membahas kekurangan, saat itu yg dipikirkan adalah saya baik-baik saja dan tak terlalu butuh belas kasihan.

Saya bisa sangat kecewa apabila mama saya membahas hal ini ke orang lain. Ya walaupun sekali lagi saya tahu mereka tak diberi tahu pun sudah tahu. Haha.

Beberapa teman memberi semangat tersirat tanpa diminta dan diceritakan. So sweet sih, tapi saat itu saya malah risih. 

Ya tapi sekarang semuanya lebih baik, saya sudah bisa diajak diskusi tentang skoliosis oleh orang lain. Sudah mulai mau mengakui kalau terkadang punya keterbatasan, bukan tak bisa dilakukan tapi jika saya memaksanya keadaan tulang belakang bisa bertambah parah. 

Intinya, kalau kamu juga punya skoliosis dan masih setertutup saya dulu. Lebih baik mulai bisa membuka diri perlahan. Sadari betul bahwa tulang belakangmu butuh diperhatikan. Jangan sampai menyesal yaaaa. 

Btw, alhamdulillah dengan derajat sebesar ini saya belum merasakan gangguan fungsi tubuh berarti. Everything just fine. Kalau cape tinggal rebahan, semuanya ok lagi. Ya tapi tetap harus segera ditangani, sekarang dalam fase mengumpulkan info, dana, dukungan dan doa untuk operasi koreksi. 

Mohon doanya ya, maaf atas segala kesalahan. Life must go on! 

Senin, 07 April 2014

Sedikit berat di awal April

Sepuluh tahun lalu, saya dibawa ke bagian radiologi. Alat di ruangan itu menangkap struktur tulang saya yang tak simetri. Hasilnya dibacakan dokter ortopedi, saya penderita skoliosis dengan kurva besar. Katanya saya harus masuk meja operasi.

Apabila saya menyanggupi. Sepanjang tulang belakang akan dipasang pen. Biayanya tak sedikit. Keluarga saya pun tak bersedia ketika dokter bilang tingkat keberhasilannya 50:50.

Operasi itu akan berjalan paling sedikit 6 jam. Saya tak takut. Tapi keluarga merasa ngeri luar biasa. Terutama mama. Sejak saat beliau tak mau diajak berdiskusi tentang skoliosis apalagi menemani ke dokter ortopedi..

Tapi tak pernah sedikitpun ingin diperlakukan berbeda. Saya tetap melakukan yang orang tanpa skoliosis lakukan, walaupun sebenarnya dilarang.

Sekitar 2 minggu lalu, akhirnya setelah lebih dr 10 tahun mengindar. Saya meminta mama saya menemani spine-care clinic. kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk radiologi. Dan minggu kemarin kembali ke klinik tersebut. Ternyata hasil foto rontgen tidak seperti yang diharapkan. Yes, my spine getting worse.

Dinamic brace hanya akan membuang-buang uang atau mungkin akan membuat kurva saya semakin parah. Hard brace bisa saja digunakan, tapi mungkin akan membuat otot menjadi malas dan lemah. Chiropractic pun sudah tidak boleh.

Dokter bilang, tindakan yang paling mungkin untuk kasus ini adalah operasi. Seandainya saya keras kepala pun, saya harus rutin fisioterapi dan rehab (semacam latihan khusus) for long-term, tindakan tersebut tidak akan mengoreksi kurva tapi hanya mencegah kurva semakin besar
Sedihnya, sekarang mama saya tak membiarkan saya bantu membawa barang-barangnya lagi.  

Idk, maybe i will get sugery. but maybe not. I just have no idea.

Tapi semuanya gak seburuk yg terbaca sih. Toh selama ini  I can handle this. Nikmat.
Allah kasih ini buat saya, karena mungkin Dia tau saya sanggup menanggungnya dengan nyengir kuda.

Saya gak sendiri, di internet banyak sekali penderita skoliosis yang mau berbagi lebih awal. Sejak dulu ingin berbagi tentang skoliosis tapi tenyata butuh nyali besar :D. 

Minggu depan selain fisioterapi mungkin saya akan coba konsultasi ke dokter ortopedi lain. Setelah itu nanti akan coba di share lebih detail. by the way, wish me luck!

Kamis, 13 Maret 2014

Communication Problem

Ya, saya punya!

Beberapa tahun lalu seorang teman mengeluh ke teman yang lain.
"Sms gue jarang dibales, itu anak kayanya punya masalah sama komunikasi deh".
Duh. Honestly, I love to talk to him.

Teman yang lain
"Sibuk lo? Gue BBM udah 2 hari yang lalu, baru dibales sekarang".

Papa
"Oi dimana? Udah berapa hari gak kasih kabar?".

Bos
"Lol kamu sudah terima email? Tolong disiapin ya"
"Lollll"
"Lolll"
"Loliiiiiii"

Kisah sedih seperti ini terus menerus terulang. Ada yang langsung protes, ada yang bodo amat, ada yang ngambek. Oia ada juga yang jadi ngomel di twitter :p

Sejujurnya, sebagian besar gagalnya komunikasi antara saya dan orang lain karena gak niat. Kalau HP bunyi jarang langsung ngecek. Seandainya udah ngecek biasanya baca dulu, terus males mikir balesannya (kecuali pertanyaan urgensi). Hp ditaro lagi. Apesnya lupa sampe besoknya. Pas inget langsung bales ditambah rasa bersalah.

Jadi tolong temennya ini dibantu, jangan berburuk sangka dulu :p

Hahhhhhhh....

Eh tapi kalau kamu merasa tulisan di atas gak relevan, atau gak pernah diperlakukan kaya gini. Kamu golongan orang beruntung. Atau justru golongan merugi . Entahlah :D

Selasa, 11 Maret 2014

Kesayangan


Mereka menua, tetapi aku semakin jauh dari rumah.
Betapa beruntungnya kalian yang masih bisa tinggal dengan orang tua. 
Aku pun masih ingin jadi parasit, yang menyesap perhatian dan kasih sayang mereka. 
Sambil tak perlu cicil KPR atau bayar kost.

Ah, mengerikan mengingat waktu berlari tak kenal lelah.
Tak peduli betapa inginnya kita menggenggam momentum.
Kini, kita harus siap berkejaran dengan jarum jam. 
Kencang, lambat, jatuh, bangkit, lemah ataupun mati, sumbu jarum tetap berotasi.

Ingat betul saat aku mendapat gaji pertama, mamaku berkata. 
"Sekarang kamu sudah bisa cari uang, mama tenang." 
Matanya basah. Dia lanjutkan.
"Mama tenang karena sudah mengantar kamu menjadi orang yang sudah tidak bergantung. Mampu menghidupi diri sendiri. Tugas mama selesai."
Mana mungkin mataku tak ikut basah.

Saat sekolah aku jarang tidak masuk sekolah. Sakit lumayan parah pun biasanya tetap masuk.
Pernah suatu ketika malamnya rasanya malas sekali besok masuk sekolah. 
Lalu sebelum tidur aku menulis sebuah kalimat, kecil sekali, di pojok tembok sisi tempat tidur. 
Males masuk sekolah. 
Ternyata besok paginya keinginanku terjabah. Saat aku enggan membuka mata. Terdengar suara mama.
"Ada ulangan gak?"
"Enggak ma" Jawabku
"Mau sekolah gak?"
"eng... enggak"
"Ya udah" Mama meninggalkan kamarku dan membiarkanku tertidur lagi.
Manusia yang paling keras tapi selalu mau mendengar.
Dipeluk mama adalah hal ternyaman, mungkin senyaman rahimnya dulu.

Terkadang aku merasa bahwa surga itu ada di pelukan ibu, bukan telapak kakinya.

Papa, yang selalu menungguku pulang di balik pagar rumah. Selalu sesegera mungkin keluar ketika mendengar deru kendaraan mirip milikku. Kadang menunggu diujung gang. Sepertinya berlebihan tapi dia memang super spesial.
Memintaku aku mengabarkan posisiku setiap kali, padahal aku sedang menyetir. Beliau mungkin lupa bahwa anaknya ini monotasking. 
Tak pernah keberatan didebat bahkan terkadang memancing perdebatan.
Walaupun beliau selalu membawa kondisi dijamannya dulu sebagai acuan hidupku di jaman ini, aku tak terlalu keberatan. Aku hanya perlu menjelaskan, walau terkadang beliau terima secara perlahan.

Ya Allah aku bersyukur telah dihadirkan di tengah keluarga yang selalu menyediakan ruang untuk bertukar pandangan.
Semoga keluargaku panjang umur dalam sehat dan taat ibadah. Amin.