Sekitar umur 14 tahun, saya mulai menyadari bahwa saya ditemani skoliosis. Saya pandangi punggung-punggung orang lain, tak ada yang seperti milik saya. Saat itu akses internet masih sulit, orang-orang sekitarku pun tak tahu pasti apa itu skoliosis.Yang kami tahu, dr SD, SMP sampai SMA skoliosis selalu dibahas sekilas di buku pelajaran biologi bersama temannya kifosis dan lordosis. Buku-buku itu bilang skoliosis adalah penyakit kelainan struktur tulang akibat dari kebiasaan postur duduk yang kurang baik. Maka yang orang-orang- termasuk saya pahami saat itu skoliosis adalah hal yang harus penderitanya terima, karena kesalahannya selama ini.
Kehidupan saya mulai berubah. Sebelum menderita skoliosis, saya adalah anak riang dengan sejuta imajinasi di kepala. Tak kenal takut dan malu. Selalu ingin tampil. Hampir semua kesenian menari, menyanyi, modeling, teater saya ikuti entah bisa atau tidak. Setelah skoliosis datang saya menarik diri perlahan dalam cangkang. Menahan diri dari hal-hal yang ingin sekali dilakukan.
Sempat ada masanya saya menangis setiap malam.
Mengecek punggungku saat bangun pagi, berharap mimpi.
Menulis prosa yang mereka sebut galau.
Cukup lama, sangat lama untuk bisa berdamai dengan skoliosis.
Sampai tiba saatnya saya bilang pada Mama.
"Saya sudah benar-benar ikhlas dengan apa yang ada."
Walaupun masih banyak yang merasa saya cukup tegar. Beberapa teman membahas yang terjadi pada saya tanpa melibatkan saya dalam pembicaraannya. Ada yang bilang saya hebat karena tetap seperti tak ada apa-apa.
Dimasa-masa kegamangan, saya diam-diam mengintip sebuah komunitas Skoliosis, namanya Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI). Tidak terpikir untuk bergabung, karena saat itu saya tak mau mendeklarasikan diri sebagai skolioser. Muncul kabar baik dan buruk dari komunitas itu. Yang baik adalah mereka yang operasinya atau terapinya berhasil membawa mereka ke keadaan lebih baik, yang buruk adalah skolioser yang sudah sampai pada tahap sulit bernafas karena kurvanya sudah terlampau besar dan menekan paru paru. Saya takut tapi tak disampaikan pada siapapun.
Dulu berkali-kali terucap minta dioperasi, tapi mama saya selalu bilang tidak dan meminta saya bersabar. Karena yang beliau tahu hanya resiko operasi, tidak tahu kalau skoliosis bisa bertambah buruk dan mengganggu kerja organ lain. Saya tak pernah menjelaskan ketakutan saya karena tak tahu caranya.
Sampai suatu waktu saya benar-benar mengikhlaskan diri. Tapi kemudian Allah berkehendak lain. Skoliosis saya bertambah buruk, kurvanya mencapai 107 derajat. Akhirnya saya mampu menjelaskan ketakutan saya pada keluarga. Dan akhirnya mereka mengikhlaskan diri dan menyadari operasi adalah satu-satunya jalan saat itu. Allah maha baik, saya dipertemukan dengan dokter Rahyussalim. Operasi saya dijalankan di RSCM seharga 0 rupiah. Dengan hasil yang diluar ekspektasi saya.
Disaat saya mengikhlaskan, disaat itulah Allah berikan.
Dimasa-masa kegamangan, saya diam-diam mengintip sebuah komunitas Skoliosis, namanya Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI). Tidak terpikir untuk bergabung, karena saat itu saya tak mau mendeklarasikan diri sebagai skolioser. Muncul kabar baik dan buruk dari komunitas itu. Yang baik adalah mereka yang operasinya atau terapinya berhasil membawa mereka ke keadaan lebih baik, yang buruk adalah skolioser yang sudah sampai pada tahap sulit bernafas karena kurvanya sudah terlampau besar dan menekan paru paru. Saya takut tapi tak disampaikan pada siapapun.
Dulu berkali-kali terucap minta dioperasi, tapi mama saya selalu bilang tidak dan meminta saya bersabar. Karena yang beliau tahu hanya resiko operasi, tidak tahu kalau skoliosis bisa bertambah buruk dan mengganggu kerja organ lain. Saya tak pernah menjelaskan ketakutan saya karena tak tahu caranya.
Sampai suatu waktu saya benar-benar mengikhlaskan diri. Tapi kemudian Allah berkehendak lain. Skoliosis saya bertambah buruk, kurvanya mencapai 107 derajat. Akhirnya saya mampu menjelaskan ketakutan saya pada keluarga. Dan akhirnya mereka mengikhlaskan diri dan menyadari operasi adalah satu-satunya jalan saat itu. Allah maha baik, saya dipertemukan dengan dokter Rahyussalim. Operasi saya dijalankan di RSCM seharga 0 rupiah. Dengan hasil yang diluar ekspektasi saya.
Disaat saya mengikhlaskan, disaat itulah Allah berikan.