Mereka menua, tetapi aku semakin jauh dari rumah.
Betapa beruntungnya kalian yang masih bisa tinggal dengan orang tua.
Aku pun masih ingin jadi parasit, yang menyesap perhatian dan kasih sayang mereka.
Sambil tak perlu cicil KPR atau bayar kost.
Ah, mengerikan mengingat waktu berlari tak kenal lelah.
Tak peduli betapa inginnya kita menggenggam momentum.
Kini, kita harus siap berkejaran dengan jarum jam.
Kencang, lambat, jatuh, bangkit, lemah ataupun mati, sumbu jarum tetap berotasi.
Ingat betul saat aku mendapat gaji pertama, mamaku berkata.
"Sekarang kamu sudah bisa cari uang, mama tenang."
Matanya basah. Dia lanjutkan.
"Mama tenang karena sudah mengantar kamu menjadi orang yang sudah tidak bergantung. Mampu menghidupi diri sendiri. Tugas mama selesai."
Mana mungkin mataku tak ikut basah.
Saat sekolah aku jarang tidak masuk sekolah. Sakit lumayan parah pun biasanya tetap masuk.
Pernah suatu ketika malamnya rasanya malas sekali besok masuk sekolah.
Lalu sebelum tidur aku menulis sebuah kalimat, kecil sekali, di pojok tembok sisi tempat tidur.
Males masuk sekolah.
Ternyata besok paginya keinginanku terjabah. Saat aku enggan membuka mata. Terdengar suara mama.
"Ada ulangan gak?"
"Enggak ma" Jawabku
"Mau sekolah gak?"
"eng... enggak"
"Ya udah" Mama meninggalkan kamarku dan membiarkanku tertidur lagi.
Manusia yang paling keras tapi selalu mau mendengar.
Dipeluk mama adalah hal ternyaman, mungkin senyaman rahimnya dulu.
Terkadang aku merasa bahwa surga itu ada di pelukan ibu, bukan telapak kakinya.
Papa, yang selalu menungguku pulang di balik pagar rumah. Selalu sesegera mungkin keluar ketika mendengar deru kendaraan mirip milikku. Kadang menunggu diujung gang. Sepertinya berlebihan tapi dia memang super spesial.
Memintaku aku mengabarkan posisiku setiap kali, padahal aku sedang menyetir. Beliau mungkin lupa bahwa anaknya ini monotasking.
Tak pernah keberatan didebat bahkan terkadang memancing perdebatan.
Walaupun beliau selalu membawa kondisi dijamannya dulu sebagai acuan hidupku di jaman ini, aku tak terlalu keberatan. Aku hanya perlu menjelaskan, walau terkadang beliau terima secara perlahan.
Ya Allah aku bersyukur telah dihadirkan di tengah keluarga yang selalu menyediakan ruang untuk bertukar pandangan.
Semoga keluargaku panjang umur dalam sehat dan taat ibadah. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar