Kamis, 10 April 2014

don't push yourself too hard

Ternyata butuh umur setua ini untuk berdamai dengan skoliosis dan terbuka tentangnya :D

10 tahun lalu kurva saya sekitar 50 derajat, sekarang melambung ke 115 derajat. Ya, sangat progresif.
Kenapa bisa? Mungkin saya yang terlalu mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Gak ingin terlihat berkebutuhan khusus. 

Contohnya. Saat ospek masuk kuliah, senior bagian kesehatan mewawancara tentang kondisi kesehatan mahasiswa baru. Saya cepat saja menjawab tidak punya masalah dengan kesehatan. Tak pernah sedikit pun ingin memakai pita medic. Walaupun saya tahu, orang mampu melihatnya tapi saya tak ingin mengakuinya.

Kebetulan Unpad mempunyai kontur tanah yang berbukit-bukit. Untuk mencapai gedung fakultas, harus jalan menanjak cukup jauh dengan membawa banyak barang bawaan. Ditengah jalan, senior yang bertugas sebagai medic bertanya apa saya sakit. Mungkin saat itu muka saya pucat karena sesak napas. Saya bilang tidak, saya baik-baik saja. Dia bilang apa saya yakin, saya boleh beristirahat tidak perlu takut. Saya meyakinkannya kalau saya baik-baik saja dan terus berjalan.

Ini hanya salah satu contoh, betapa saya mengabaikan tubuh ini. Dan sekarang dia protes :p

Saya bisa sangat terbuka tentang apapun tapi sangat tertutup tentang skoliosis.
Seringkali teman yang ingin tahu memancing untuk membahas, tapi sayangnya selalu saya alihkan. 
Malas sekali rasanya membahas kekurangan, saat itu yg dipikirkan adalah saya baik-baik saja dan tak terlalu butuh belas kasihan.

Saya bisa sangat kecewa apabila mama saya membahas hal ini ke orang lain. Ya walaupun sekali lagi saya tahu mereka tak diberi tahu pun sudah tahu. Haha.

Beberapa teman memberi semangat tersirat tanpa diminta dan diceritakan. So sweet sih, tapi saat itu saya malah risih. 

Ya tapi sekarang semuanya lebih baik, saya sudah bisa diajak diskusi tentang skoliosis oleh orang lain. Sudah mulai mau mengakui kalau terkadang punya keterbatasan, bukan tak bisa dilakukan tapi jika saya memaksanya keadaan tulang belakang bisa bertambah parah. 

Intinya, kalau kamu juga punya skoliosis dan masih setertutup saya dulu. Lebih baik mulai bisa membuka diri perlahan. Sadari betul bahwa tulang belakangmu butuh diperhatikan. Jangan sampai menyesal yaaaa. 

Btw, alhamdulillah dengan derajat sebesar ini saya belum merasakan gangguan fungsi tubuh berarti. Everything just fine. Kalau cape tinggal rebahan, semuanya ok lagi. Ya tapi tetap harus segera ditangani, sekarang dalam fase mengumpulkan info, dana, dukungan dan doa untuk operasi koreksi. 

Mohon doanya ya, maaf atas segala kesalahan. Life must go on! 

Senin, 07 April 2014

Sedikit berat di awal April

Sepuluh tahun lalu, saya dibawa ke bagian radiologi. Alat di ruangan itu menangkap struktur tulang saya yang tak simetri. Hasilnya dibacakan dokter ortopedi, saya penderita skoliosis dengan kurva besar. Katanya saya harus masuk meja operasi.

Apabila saya menyanggupi. Sepanjang tulang belakang akan dipasang pen. Biayanya tak sedikit. Keluarga saya pun tak bersedia ketika dokter bilang tingkat keberhasilannya 50:50.

Operasi itu akan berjalan paling sedikit 6 jam. Saya tak takut. Tapi keluarga merasa ngeri luar biasa. Terutama mama. Sejak saat beliau tak mau diajak berdiskusi tentang skoliosis apalagi menemani ke dokter ortopedi..

Tapi tak pernah sedikitpun ingin diperlakukan berbeda. Saya tetap melakukan yang orang tanpa skoliosis lakukan, walaupun sebenarnya dilarang.

Sekitar 2 minggu lalu, akhirnya setelah lebih dr 10 tahun mengindar. Saya meminta mama saya menemani spine-care clinic. kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk radiologi. Dan minggu kemarin kembali ke klinik tersebut. Ternyata hasil foto rontgen tidak seperti yang diharapkan. Yes, my spine getting worse.

Dinamic brace hanya akan membuang-buang uang atau mungkin akan membuat kurva saya semakin parah. Hard brace bisa saja digunakan, tapi mungkin akan membuat otot menjadi malas dan lemah. Chiropractic pun sudah tidak boleh.

Dokter bilang, tindakan yang paling mungkin untuk kasus ini adalah operasi. Seandainya saya keras kepala pun, saya harus rutin fisioterapi dan rehab (semacam latihan khusus) for long-term, tindakan tersebut tidak akan mengoreksi kurva tapi hanya mencegah kurva semakin besar
Sedihnya, sekarang mama saya tak membiarkan saya bantu membawa barang-barangnya lagi.  

Idk, maybe i will get sugery. but maybe not. I just have no idea.

Tapi semuanya gak seburuk yg terbaca sih. Toh selama ini  I can handle this. Nikmat.
Allah kasih ini buat saya, karena mungkin Dia tau saya sanggup menanggungnya dengan nyengir kuda.

Saya gak sendiri, di internet banyak sekali penderita skoliosis yang mau berbagi lebih awal. Sejak dulu ingin berbagi tentang skoliosis tapi tenyata butuh nyali besar :D. 

Minggu depan selain fisioterapi mungkin saya akan coba konsultasi ke dokter ortopedi lain. Setelah itu nanti akan coba di share lebih detail. by the way, wish me luck!