Aku sayang sekali keluarga ini. Sayang sekali. Rasanya berkah ada di dalamnya. Sampai suatu saat aku sadar bahwa ada hal baik yang dilakukan untukku dengan cara yang tak aku pahami.
Memang aku tak suka bercerita tentang hati.
Karena untuk bercerita aku butuh rasa percaya,
Kini aku belajar, memang lebih baik aku tak akan pernah membuka.
Berdialoglah hanya dengan Tuhan.
Karena hanya Dia yang paham apa-apa saya yang telah kau lalui dan menempamu hingga jadi seperti sekarang.
Hanya dia yang tak menghakimi. Setidaknya tentang hati.
Tapi aku percaya, tak ada yang terjadi tanpa sentuhannya. Termasuk yang dilalui tiap-tiap manusia.
Kita tak akan mampu mengukur keperihan hati orang lain.
Kita pun tak akan sanggup mengadar kebahagiaan di hati orang lain.
Karena sungguh kita tak akan pernah tahu.
Entah siapa yang mengajariku.
Saat orang lain mengakui sesuatu di depanku. Aku tak lantas bergeming.
Aku tak lantas menjawab, terkadang aku cukup berusaha memahaminya.
Jika aku tak paham juga mengapa hal seperti itu bisa terjadi, aku pilih mengajaknya tertawa saja.
Naif jika aku menghendaki semua orang sama.
Terlepas dari kebodohanku yang tak akan bisa kalian pahami.
Aku masih sayang keluarga ini.
Senin, 20 Juni 2016
Minggu, 29 Mei 2016
Kamis, 24 Desember 2015
Syukur
Terlepas dari semua batu terjal yang siap dan telah melukai jalan. Aku sungguh bersyukur telah diajari cara berperang.
Mungkin suatu saat aku akan tiba-tiba lupa caranya bernafas. Aku pun tetap bersyukur karena pernah diberkahi kasih sayang.
Walau suatu hari hati ini akan sakit tak terperi, tak ada alasan untuk tak bersyukur karena aku telah paham arti memberi.
Sampai kapanpun aku akan terus bersyukur, karena telah diajari.
Terima kasih untuk inspirasi yang tak terbeli.
Bisa diingat. Mungkin, aku akan tetap di sini.
Senin, 23 November 2015
Selasa, 13 Oktober 2015
Kamis, 25 Juni 2015
...
Aku insan,
maka tugasku hanya tunduk.
Apa yang Kau beri,
tak akan ku tolak,
walau seringkali butuh waktu untuk membuka telapak.
Aku akan terus tersenyum akhirnya,
walaupun mengernyit di awal.
Aku akan berlapang,
walau sering kali mudah terbakar amarah.
ini bukan janji,
ini harapan,
karena Kau Maha Baik,
maka dengan senang hati aku akan tunduk.
Selasa, 09 Juni 2015
Mendengar saja cukup
Biarku mengangsur masa depan.
Maka ceritamu saja cukup.
Maka ceritamu saja cukup.
Suatu saat akan ikut atau pergi sendiri.
Saat logam-logam sudah memahami.
Aku berjanji pada diri sendiri, tak butuh waktu lama untuk kembali.
Kembali menjadi pion yang tak terbeli.
Langganan:
Komentar (Atom)